Senin, 28 Desember 2009

PEMUDA DAN SOSIALISASI

Pemuda di Indonesia tidak luput dari pengaruh bersosialisasi di dalam lingkungan masyarakat. Perlu kita ketahui bahwa pemuda di Indonesia merupakan generasi bangsa untuk masa depan yang akan datang dimana para pemuda berperan penting dalam menentukan nasib bangsa Indonesia. Dan para pemuda harus bersemangat dalam memperjuangkan negara Indonesia.

Sosialisasi dapat diartikan sebagai suatu proses dimana suatu individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Bersosialisasi sangat penting di dalam lingkungan masyarakat. Dari sisi positifnya, kita dapat saling berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan saling tolong menolong sesama manusia. Tanpa adanya rasa sosial, kita tidak akan pernah tahu dunia luar dan kita tidak pernah peduli dengan masyarakat sekitar.

Pemuda dan sosialisasi merupakan suatu proses yang sangat baik untuk lingkungan. Misalnya dengan remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Perlu bersosialisasi dilingkungan sekolah, rumah maupun dikampus. Tujuannya untuk saling bertukar informasi dengan masyarakat sekitar. Jadi kita mengetahui apa yang terjadi dengan lingkungan kita sendiri. Tetapi akhir-akhir ini banyak terjadi pengaruh negatif yang membuat para pemuda sekarang terjerumus ke arah yang tidak benar. Contohnya saja banyak terjadi remaja yang terkena narkoba, pergaulan bebas dan free seks. Hal tersebut karena pengaruh lingkungan yang tidak mendidik dan salah bersosialisasi. Bahkan anak SD ada yang sudah berani merokok di depan umum. Ini salah satu contoh yang tidak baik untuk masa depan bangsa. Salah bersosialisasi bisa mengakibatkan pengaruh besar untuk bangsa ini.

Untuk itu perlu adanya himbauan dari orang sekitar terutama orang tua. Guru disekolah maupun di lingkungannya juga perlu menghimbau untuk melakukan penjelasan betapa pentingnya bersosialisasi yang positif dan tidak terjerumus ke hal-hal yang negatif. Tidak hanya itu, kita sebagai remaja juga perlu adanya kesadaran dari diri masing-masing untuk melakukan bersosialisasi dengan cara mengikuti organisasi yang ada di lingkungan sekitar dan melakukan hal-hal positif yang bermanfaat bagi kehidupan yang akan datang. Dan berusaha untuk mengajak para pemuda lain yang terjerumus ke dalam suatu hal yang positif.
« GLOBAL WARMING
MASYARAKAT PEDESAAN DAN PERKOTAAN »

sumber:http://qqrizkia.ngeblogs.com/2009/12/20/pemuda-dan-sosialisasi/


kesimpulan: menurut saya bersosialisasi pada masa muda sangat penting, karna dapat memberi pengetahuan dari masing -masing pengalaman individu, kita juga bisa Sharing dengan teman-teman, tapi jangan lupa, kita harus bergaul dengan teman yang baik, sehingga kita mendapatkan ilmu yang positif dan dapat membahagiakan orang tua jika kita tidak berkelakuan negatif di masa muda

Peranan Setiap Warga Negara Indonesia

Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 30 tertulis bahwa "Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara." dan " Syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang." Jadi sudah pasti mau tidak mau kita wajib ikut serta dalam membela negara dari segala macam ancaman, gangguan, tantangan dan hambatan baik yang datang dari luar maupun dari dalam.

Beberapa dasar hukum dan peraturan tentang Wajib Bela Negara :
1. Tap MPR No.VI Tahun 1973 tentang konsep Wawasan Nusantara dan Keamanan Nasional.
2. Undang-Undang No.29 tahun 1954 tentang Pokok-Pokok Perlawanan Rakyat.
3. Undang-Undang No.20 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Hankam Negara RI. Diubah oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1988.
4. Tap MPR No.VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dengan POLRI.
5. Tap MPR No.VII Tahun 2000 tentang Peranan TNI dan POLRI.
6. Amandemen UUD '45 Pasal 30 dan pasal 27 ayat 3.
7. Undang-Undang No.3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.

Dengan hak dan kewajiban yang sama setiap orang Indonesia tanpa harus dikomando dapat berperan aktif dalam melaksanakan bela negara. Membela negara tidak harus dalam wujud perang tetapi bisa diwujudkan dengan cara lain seperti :
1. Ikut serta dalam mengamankan lingkungan sekitar (seperti siskamling)
2. Ikut serta membantu korban bencana di dalam negeri
3. Belajar dengan tekun pelajaran atau mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan atau PKn
4. Mengikuti kegiatan ekstraklurikuler seperti Paskibra, PMR dan Pramuka.

Sebagai warga negara yang baik sudah sepantasnya kita turut serta dalam bela negara dengan mewaspadai dan mengatasi berbagai macam ATHG / ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan pada NKRI / Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti para pahlawan yang rela berkorban demi kedaulatan dan kesatuan NKRI.

Beberapa jenis / macam ancaman dan gangguan pertahanan dan keamanan negara :
1. Terorisme Internasional dan Nasional.
2. Aksi kekerasan yang berbau SARA.
3. Pelanggaran wilayah negara baik di darat, laut, udara dan luar angkasa.
4. Gerakan separatis pemisahan diri membuat negara baru.
5. Kejahatan dan gangguan lintas negara.
6. Pengrusakan lingkungan.




smber:organisasi.org/kewajiban-bela-negara-bagi-semua-warga-negara-indonesia-pertahanan-dan-pembelaan-negara

kesimpulan saya: sangat diwajibkan sekali bahawa tiap warga negara harus berperan dalam negara ini, tetapi kita harus berperan yang positif untuk kemajuan bangsa Indonesia ini, agar negara kita dapat dinilai bagus di mata Dunia

BUDAYA LEBARAN SUBUH TERANCAM PUNAH

BUDAYA LEBARAN SUBUH TERANCAM PUNAH


Bengkulu - Budaya atau tradisi Lebaran Subuh di Bengkulu terancam punah karena kaum tua dari Suku Lembak sebagian besar sudah meninggal dunia, sedangkan generasi penerusnya mulai beralih mengikuti arus tradisi modern. Biasanya, setelah shalat Subuh pada setiap Hari Raya Idul Fitri, warga sudah berhamburan ke luar rumah untuk bersilaturahmi dengan tetangga, handai taulan, dan kaum tua-muda. “Sekarang, pada Idul fitri 1430 H, unsur kebudayaan yang sempat tumbuh dan berkembang di Bengkulu itu mulai ditinggalkan warga,” kata Amir, tokoh adat di Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu, Minggu.

"Kami sulit mengajak generasi muda untuk mempertahankan budaya Lebaran subuh tersebut, karena mereka mulai tergiur dengan tradisi perkotaan," jelas Amir. Menurut dia, saat tokoh-tokoh tua masih hidup, suasana Lebaran subuh ini sangat meriah. Namun sejak tiga tahun terakhir, tradisi itu mulai menurun karena sebagian generasi muda dan warga pendatang cendrung memilih bermaaf-maafan setelah shalat Ied dilakukan.

Tradisi Lebaran subuh dilakukan sejak zaman nenek moyang. Karena waktu itu suasana pedesan masih sepi, untuk bersilaturahmi dilakukan sebelum shalat Ied, karena setelah shalat sebagian besar warga sudah melakukan kegiatannya sehari-hari, misalnya ke kebun atau ke sawah. Kebun dan sawah para leluhur itu lokasinya sangat jauh dari perkampungan dan ditempuh dengan jalan kaki. Kalau terlambat sampai ke ladang atau kebun, maka tanaman akan diganggu oleh binatang hutan, misalnya monyet atau babi hutan.

Ada juga warga petani yang tinggal di kebun, tapi dalam melaksanakan shalat Ied ia lakukan di desanya. “Dia berangkat dari kebun pada malam hari, dan sampai di desa biasanya subuh dan langsung berlebaran, setelah itu baru melaksanakan shalat Ied,” katanya. Kebiasaan leluhur itu terbawa generasinya hijrah ke pinggiran kota. Setelah sempat bertahan belasan tahun, tumbuh generasi baru yang sudah membaur dengan warga kota sehingga generasi inilah yang tampaknya tidak mau lagi meneruskan tradisi tersebut.

Seorang tokoh muda Suku Lembak, M Sis Rahman, mengatakan, kebiasan leluhur itu sekarang masih juga dilakukan, karena amsih ada tokoh-tokoh tua yang masih hidup. Namun demikian, tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Kebiasaan Lebaran subuh ini hilang sehubungan warga yang dulunya tinggal di desa, sekarang telah menjadi penghuni kelurahan yang berpedoman pada cara-cara dan tradisi kota. Misalnya silaturahmi dengan tetangga, kini dilakukan setelah shalat Ied, atau bermaaf-maafan di masjid dulu, baru kemudian berkunjung dari rumah ke rumah.

Menurut dia, kebiasaan bersilaturahmi dan bermaafan Lebaran itu sudah dilakukan rutin oleh warga Lembak di luar Bengkulu, misalnya di wilayah Sumsel, Sumatra Barat dan Lampung. "Bisa saja kebiasan leluhur itu ke depan punah, karena tergilas oleh tradisi warga yang penduduknya lebih dominan pendatang," kata tokoh muda yang juga anggota DPRD Provinsi Bengkulu itu

Sumber: mediaindonesia

kesimpulan saya: menurut saya bahwa jika kebudayaan ini punah maka tidak bagus sekali, walaupun shalat ID sunnah dalam Islam, tapi untuk melengkapi ibadah puasa kita yang lebih baik shlat sunnah ID harus dilakukan, tidak ada ruginya mlaksanakan shalat ini





nama : praba dwi yantoro

kelas : 1ia02

npm : 55409675

Sabtu, 26 September 2009

Budaya Lebaran Subuh Terancam Punah

Bengkulu - Budaya atau tradisi Lebaran Subuh di Bengkulu terancam punah karena kaum tua dari Suku Lembak sebagian besar sudah meninggal dunia, sedangkan generasi penerusnya mulai beralih mengikuti arus tradisi modern. Biasanya, setelah shalat Subuh pada setiap Hari Raya Idul Fitri, warga sudah berhamburan ke luar rumah untuk bersilaturahmi dengan tetangga, handai taulan, dan kaum tua-muda. “Sekarang, pada Idul fitri 1430 H, unsur kebudayaan yang sempat tumbuh dan berkembang di Bengkulu itu mulai ditinggalkan warga,” kata Amir, tokoh adat di Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu, Minggu.

"Kami sulit mengajak generasi muda untuk mempertahankan budaya Lebaran subuh tersebut, karena mereka mulai tergiur dengan tradisi perkotaan," jelas Amir. Menurut dia, saat tokoh-tokoh tua masih hidup, suasana Lebaran subuh ini sangat meriah. Namun sejak tiga tahun terakhir, tradisi itu mulai menurun karena sebagian generasi muda dan warga pendatang cendrung memilih bermaaf-maafan setelah shalat Ied dilakukan.

Tradisi Lebaran subuh dilakukan sejak zaman nenek moyang. Karena waktu itu suasana pedesan masih sepi, untuk bersilaturahmi dilakukan sebelum shalat Ied, karena setelah shalat sebagian besar warga sudah melakukan kegiatannya sehari-hari, misalnya ke kebun atau ke sawah. Kebun dan sawah para leluhur itu lokasinya sangat jauh dari perkampungan dan ditempuh dengan jalan kaki. Kalau terlambat sampai ke ladang atau kebun, maka tanaman akan diganggu oleh binatang hutan, misalnya monyet atau babi hutan.

Ada juga warga petani yang tinggal di kebun, tapi dalam melaksanakan shalat Ied ia lakukan di desanya. “Dia berangkat dari kebun pada malam hari, dan sampai di desa biasanya subuh dan langsung berlebaran, setelah itu baru melaksanakan shalat Ied,” katanya. Kebiasaan leluhur itu terbawa generasinya hijrah ke pinggiran kota. Setelah sempat bertahan belasan tahun, tumbuh generasi baru yang sudah membaur dengan warga kota sehingga generasi inilah yang tampaknya tidak mau lagi meneruskan tradisi tersebut.

Seorang tokoh muda Suku Lembak, M Sis Rahman, mengatakan, kebiasan leluhur itu sekarang masih juga dilakukan, karena amsih ada tokoh-tokoh tua yang masih hidup. Namun demikian, tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Kebiasaan Lebaran subuh ini hilang sehubungan warga yang dulunya tinggal di desa, sekarang telah menjadi penghuni kelurahan yang berpedoman pada cara-cara dan tradisi kota. Misalnya silaturahmi dengan tetangga, kini dilakukan setelah shalat Ied, atau bermaaf-maafan di masjid dulu, baru kemudian berkunjung dari rumah ke rumah.

Menurut dia, kebiasaan bersilaturahmi dan bermaafan Lebaran itu sudah dilakukan rutin oleh warga Lembak di luar Bengkulu, misalnya di wilayah Sumsel, Sumatra Barat dan Lampung. "Bisa saja kebiasan leluhur itu ke depan punah, karena tergilas oleh tradisi warga yang penduduknya lebih dominan pendatang," kata tokoh muda yang juga anggota DPRD Provinsi Bengkulu itu


Sumber: mediaindonesia



nama : praba dwi yantoro

kelas : 1ia02

npm : 55409675