Sabtu, 26 September 2009

Budaya Lebaran Subuh Terancam Punah

Bengkulu - Budaya atau tradisi Lebaran Subuh di Bengkulu terancam punah karena kaum tua dari Suku Lembak sebagian besar sudah meninggal dunia, sedangkan generasi penerusnya mulai beralih mengikuti arus tradisi modern. Biasanya, setelah shalat Subuh pada setiap Hari Raya Idul Fitri, warga sudah berhamburan ke luar rumah untuk bersilaturahmi dengan tetangga, handai taulan, dan kaum tua-muda. “Sekarang, pada Idul fitri 1430 H, unsur kebudayaan yang sempat tumbuh dan berkembang di Bengkulu itu mulai ditinggalkan warga,” kata Amir, tokoh adat di Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu, Minggu.

"Kami sulit mengajak generasi muda untuk mempertahankan budaya Lebaran subuh tersebut, karena mereka mulai tergiur dengan tradisi perkotaan," jelas Amir. Menurut dia, saat tokoh-tokoh tua masih hidup, suasana Lebaran subuh ini sangat meriah. Namun sejak tiga tahun terakhir, tradisi itu mulai menurun karena sebagian generasi muda dan warga pendatang cendrung memilih bermaaf-maafan setelah shalat Ied dilakukan.

Tradisi Lebaran subuh dilakukan sejak zaman nenek moyang. Karena waktu itu suasana pedesan masih sepi, untuk bersilaturahmi dilakukan sebelum shalat Ied, karena setelah shalat sebagian besar warga sudah melakukan kegiatannya sehari-hari, misalnya ke kebun atau ke sawah. Kebun dan sawah para leluhur itu lokasinya sangat jauh dari perkampungan dan ditempuh dengan jalan kaki. Kalau terlambat sampai ke ladang atau kebun, maka tanaman akan diganggu oleh binatang hutan, misalnya monyet atau babi hutan.

Ada juga warga petani yang tinggal di kebun, tapi dalam melaksanakan shalat Ied ia lakukan di desanya. “Dia berangkat dari kebun pada malam hari, dan sampai di desa biasanya subuh dan langsung berlebaran, setelah itu baru melaksanakan shalat Ied,” katanya. Kebiasaan leluhur itu terbawa generasinya hijrah ke pinggiran kota. Setelah sempat bertahan belasan tahun, tumbuh generasi baru yang sudah membaur dengan warga kota sehingga generasi inilah yang tampaknya tidak mau lagi meneruskan tradisi tersebut.

Seorang tokoh muda Suku Lembak, M Sis Rahman, mengatakan, kebiasan leluhur itu sekarang masih juga dilakukan, karena amsih ada tokoh-tokoh tua yang masih hidup. Namun demikian, tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Kebiasaan Lebaran subuh ini hilang sehubungan warga yang dulunya tinggal di desa, sekarang telah menjadi penghuni kelurahan yang berpedoman pada cara-cara dan tradisi kota. Misalnya silaturahmi dengan tetangga, kini dilakukan setelah shalat Ied, atau bermaaf-maafan di masjid dulu, baru kemudian berkunjung dari rumah ke rumah.

Menurut dia, kebiasaan bersilaturahmi dan bermaafan Lebaran itu sudah dilakukan rutin oleh warga Lembak di luar Bengkulu, misalnya di wilayah Sumsel, Sumatra Barat dan Lampung. "Bisa saja kebiasan leluhur itu ke depan punah, karena tergilas oleh tradisi warga yang penduduknya lebih dominan pendatang," kata tokoh muda yang juga anggota DPRD Provinsi Bengkulu itu


Sumber: mediaindonesia



nama : praba dwi yantoro

kelas : 1ia02

npm : 55409675